June 16, 2013

.

"Kita tidak dilahirkan untuk egois memilih mau dilahirkan dimana, di keluarga siapa, dan seperti apa."
"Kita juga tidak akan pernah bisa mengubah masa yang udah lewat kan."
"Kita, disini, sekarang ini, hanya diminta membuat hari ini menjadi lebih baik, begitu pula dengan hari-hari setelahnya."
"Jadi, jangan pernah menyesali apa yang telah kamu lakukan."
"Perbaiki di masa yang akan datang."
"Jangan hanya mengeluh yang memang tidak perlu."
Mengutip perkataan kakak gue, "Kalo soal keimanan bolehlah kita liat ke atas, kalo kehidupan dunia lalu liatlah ke bawah. Dengan begitu kita lebih mudah untuk mensyukuri segala sesuatunya."

June 14, 2013

Morning talks.

Selanjutnya G adalah gue dan H adalah kakak gue (Helen)
Gue (G) : Kak, isi lagi dong bagelannya.
Helen (H) : Beli dimana?
G : Lah itu bukannya elo yang beli?
H : Bukan. Itu dari om 'A' buat tombay. Cuma biasa kan tombay, cuma mau dikasih makanan sama orang-orang tertentu aja.
G : Ohiya? Hem kayaknya gengsi gue turunan dari tombay deh kalo gitu.
H : Eh nggak boleh tau kayak gitu sama saudara sendiri. Lagian kapan lo pernah gengsi? Gue gak pernah liat tuh.
G : Ya berarti gue gengsinya gak sama saudara.
H : Iya. Tapi gak tau deh bakat lo rempong banget kalo mau pake baju tuh turunan dari mana *nyepet*
G : Ya dari elo laahh. Helloooo! Lo gak inget dulu kalo lo mau pergi pasti meninggalkan kamar kayak kapal pecah gitu? Cuma bedanya gue lebih rapi.
H : *hening* *bener juga*
Obrolan pagi kakak beradik yang kebetulan sedang akur.

June 12, 2013

Noted.

Another note to self thingy:
Jangan suka bikin orang lain jadi salah paham ya. Bisa gawat.
Oke.

June 8, 2013

Just A Thought.

Terekam baik dalam ingatan, tak dapat lepas. Setiap detik kejadian bagai rangkaian puzzle yang telah lama terpecah dan perlahan kembali lengkap. Kemudian memori itu kembali berulang, lagi, lagi, dan lagi.
Toh hidup memang selayaknya dipenuhi cerita kan.

Semua harus jelas sebelum benar terpisah.. ya?

June 7, 2013

Pidato Wisudawan Terbaik Athens High School

Anak mainstream cem gue abis baca blognya Bapak Rinaldi Munir perihal pidato wisuda seorang wisudawan terbaik yang bernama Erica Goldson di acara wisuda Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010 langsung pengen ikutan menulis. Mumpung lagi gak bisa keluar ruangan buat makan siang gara2 gaada orang yang bisa ditebengin IDnya, maka mari ngeblog dulu! Menurut sumber, Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Telat? Iya maap gue gak update haha. Yang mau baca isi pidatonya silakan langsung disini aja ya..

Oke lanjut. In my opinion, hal-hal begini menarik banget sih buat di-sounding ke seluruh dunia, apalagi lingkungan sekitar kita. Isi pidato si Erica kurang lebih mengangkat kalo nilai-nilai a.k.a indeks prestasi (IP) yang dia dapatkan selama ini memang patut dia terima karena usaha keras yang telah dia lakukan selama ini, tetapi itu belum berarti menjamin dia akan berhasil juga di luar sana, dunia luar kampus, dunia yang sebenarnya. Bahkan dengan jelas ia mengatakan dia tidak tahu sebenarnya apa yang dia inginkan selama ini. Dia hanya patuh pada perintah yang diberikan dan tunduk pada sistem yang ada. Sedangkan di Indonesia, masih banyak banget menurut gue orang tua yang cukup menekan anaknya dalam hal indeks nilai. Mungkin hal begini ada benernya, pasti ada benernya sih. Mereka jelas menginginkan yang terbaik untuk anaknya dalam segala hal dengan harapan suatu saat anaknya bisa menjadi terbaik juga di komunitasnya. Hal ini wajar tapi mungkin pendekatannya yang masih kurang ajar. Hehehe :p

Gue pribadi setuju sama kebebasan anak mau memilih bidang apa yang diminatinya. Apapun itu. Toh kalo dia senang di bidangnya, insyaallah kerjaannya juga lancar kan, yah kalaupun gak lancar paling nggak dia senang bersusah-susah di bidang itu. 

Ada yang bilang IP bukan segalanya, tapi segalanya butuh IP. Setuju banget sama pernyataan barusan. Koreksi dikit perihal maksudnya dari sudut pandang gue kali ya. Jadi begini :
"IP bukan segalanya" -- Pernyatan ini menurut gue dibuat supaya mindset orang tua tidak menitikberatkan pada indeks yang berhasil diraih anaknya. Tapi justru lebih ke nilai-nilai yang harusnya dia dapat selama mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Ini pun termasuk soft skill juga menurut gue, jangan cuma hard skill doang tapi gabisa ngomong sama orang. Percuma. Tapi dengan pernyataan ini, ada juga anak-anak yang jatohnya malah jadi menganggap enteng nilai yang bisa diukur dengan angka aka indeks itu sendiri. Percayalah kawan, itu pun gak sepenuhnya benar. Boleh aja sih kalo cuma sekedar buat menenangkan diri sendiri, cuma kalo terlalu dianggap sepenuhnya benar, ya nggak gitu juga sih.
"Segalanya butuh IP" -- Kalo yang ini gue setuju, tapi cuma sebagai gerbang lo mendapat kepercayaan dari perusahaan yang lo minati. Selebihnya? Gak akan diliat-liat lagi kalo udah keterima. Sotoy sih karena gue belum pernah merasakannya juga, cuma dari ngobrol sama banyak orang yang udah bekerja, ya begitulah kenyataannya. Itu ibaratnya penting di seleksi paling pertama, seleksi berkas. Kelanjutannya? Ya tergantung pintar-pintarnya lo berkomunikasi didukung dengan skill lo selama ini.
Ya begitulah pokoknya. Semakin kesini, makin tinggi ekspektasi buat calon-calon generasi penerus bangsa. Itu artinya makin tinggi pula tingkat persaingan. Sayang aja kalo gak bener-bener dipersiapkan dari awal rasanya, tentu tanpa membuat si anak menjadi terbeban ya btw. Dan mumpung lagi masa-masanya gue kerja praktik nih, mau ngasih pendapat aja. Kerja tuh... sumpah deh capek banget. Entah kenapa pulang ke rumah tuh rasanya udah langsung tepar dan bangun-bangun buat bersiap ke kantor lagi. Begitu terus sampe weekend. Jadi, yang masih sekolah dan masih bisa leha-leha di rumah dengan santai, jangan sia-siakan waktu kalian itu ya! That was really priceless. Asal jangan kebablasan aja yow, mesti tau kapan waktunya main dan kapan serius hehe.

Salam dari daerah Pancoran.


Risma S.