Sore yang lagi-lagi indah.
Hampir setiap sore indah begini, yang aku ingat adalah waktu bermainku bersama teman-temanku dibatasi oleh kepulanganmu dari tempat kerja. Sekedar untuk menerima pelukan, ciuman keningmu, dan ceritamu untuk menghapuskan lelahmu sehari itu dan untuk memberimu semangat keesokan harinya.
Hampir setiap sore indah begini, yang aku ingat adalah saat dimana kamu memintaku mengantarkanmu bertemu dengan teman-temanmu di blok-blok sebelah rumah.
Hampir setiap sore indah begini, yang aku ingat cuma kejadian itu. Sore dimana aku terburu-buru dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Dimana setiap detik lebih cepat akan sangat berarti bagiku saat itu. Saat dimana orang-orang tengah menungguku, tapi yang terpenting adalah kamu. Karena sore itu, sore dimana aku terburu-buru bertemu kamu untuk terakhir kali.
Hampir setiap sore indah begini, yang kembali aku ingat adalah saat itu. Saat dimana aku menjengukmu di rumah barumu untuk pertama kali. Tempat dimana kamu benar-benar beristirahat dari semua lelah yang kamu lakukan selama ini. Tempat dimana kamu akan sehat walafiat dan bahagia selamanya. Tempat dimana aku hanya bisa memelukmu dengan doa-doaku yang kuharap sampai di telingamu, lebih baik lagi jika itu bisa meringankan bebanmu.
Hampir setiap sore indah begini, yang merasuk ke kepalaku adalah ingatan tentang betapa aku merindukanmu di setiap waktu, merindukan nasihatmu, perhatianmu, ajaranmu, ceritamu, usapanmu, suaramu, pelukanmu, dan segala sesuatu tentangmu.
Hampir setiap sore indah begini, yang kembali aku harapkan adalah aku bisa menelponmu, bertemu langsung denganmu, memelukmu, mengabulkan semua keinginmu, menuruti semua nasihatmu, mengabarimu apa yang aku lakukan hari ini, juga bagaimana perasaanku hari ini.
Hanya untukmu, Ibu.
Rindu yang tidak akan pernah ada ujungnya.
Bandung, 27 April 2013.
Risma S.
No comments:
Post a Comment