August 17, 2014

Mungkin

Aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Yang aku tau dan ingin aku percaya hanya apa yang keluar dari mulutmu, apa yang kamu katakan. Aku tidak menulis ini sebagai pernyataan menyudutkan atau menyalahkan, melainkan hanya ingin sekedar berbagi rasa.

Siang ini aku menemukan secarik kertas bertuliskan kata-kata yang cukup panjang, berjejeran dengan ucapan selamat dariku 5 bulan yang lalu, terpajang rapi di sana, menggelitikku untuk membaca tuntas apa isinya. Sebuah pesan. Tertanda dari seorang teman lama (?). Tertulis sebagai pesan perpisahan, tapi tidak juga (?). Mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai ucapan selamat, dibumbui dengan beberapa harapan. Tulisan pesan tersebut cukup membuat aku terdiam dan berpikir beberapa saat. Mengapa pilihan kata itu yang ia gunakan? Mengapa pilihan benda itu yang ia berikan? Apa hubungan kalian memang sedekat itu, atau ini hanya perasaanku yang terlampau berlebihan? Tapi aku memilih untuk tidak membahasnya denganmu. Aku memilih diam karena memang itu yang kau inginkan, bukan?

Jujur, hari ini bukanlah hari yang mudah. Kau pun mengetahuinya. Setelah melalui hari yang panjang denganmu, aku tergelitik untuk berbagi cerita ini dengan seorang teman serumah, didukung rasa penasaran apakah pemikiran ini wajar atau tidak. Aku bahkan tidak memintanya untuk berpihak, murni hanya ingin melampiaskan rasa penasaran yang membayang.

Yah pada intinya, aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Jika diberi contoh kasus yang sama seperti ini pada hubunganku dengan seorang teman yang tentu kamu tau siapa, dengan peranku sebagai "ia" dan temanku itu sebagai "kamu", aku rasa seberapa pun aku merasa dekat dengannya, aku tidak akan sampai pada pemikiran untuk memberi hadiah seniat itu, pula tidak akan sampai pada pemikiran untuk menuliskan kata-kata serancu itu.

Tapi...
Mungkin tingkat keniatan setiap orang memang berbeda.
Mungkin hubungan kalian memang pernah lebih dari yang aku perkirakan semula.
Mungkin hal tersebut memang biasa dalam hubungan kalian.
Mungkin memang benar hadiah terakhir hingga dilakukan seniat mungkin.
Mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlampau berlebihan.
Hanya kamu, ia, dan Tuhan yang pada akhirnya tau jawabnya.

Aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini saat ini, tapi mungkin kamu akan menemukannya suatu saat nanti. Semoga saat membacanya, kamu diberikan kelapangan hati untuk tidak gegabah dalam berucap apalagi bertindak kemudian. Semoga saat itu tiba, hubungan ini masih baik-baik saja seperti sedia kala. Dan semoga saat itu tiba, kita sama-sama dapat menanggapinya dengan lebih dewasa.
Ya semoga saja.


Bandung, 16 Agustus 2014


(yang selalu mendukungmu)

No comments: