June 9, 2023

Recent feeling

This week, I heard a lot.
Between sadness and joy, but mostly about joy.
I don’t know how to react.
I feel happy to hear those news, but at the same time, also feel sad and lonely.
I know it’s just a temporary feeling.
I know I can get through it sooner or later.
Yeah, I should be happy for them, totally agree with it.

I just need to sort out my life so I don’t feel stuck anymore.
And I know I can do it.
I know I’m so much more than this.

Hello again

Hello again!

I just think I will reactivate this page again to share my random thought or insecurity these days.. feel free to skip it if you bother to read it hehe

Ciao for now đŸ€

December 31, 2018

Thank you, 2018.

This year has taught me
That being good is not enough
That there are times when think logic is all you need

------
Welcoming back my odd year :)
Hello!

December 24, 2018

Wasted.

It's such a waste
If neither of us are not happy

I am not happy
So, you should be happy then.

January 1, 2017

NYE 2017

Tbh, I still feel uneasy these days.
About how things going through nowadays.

------
Well, happy new year 2017, folks!
Hope this year is much better than the last one.
Cheers!

May 24, 2015

Sabar (?)

Kata orang, aku harus sabar.
Well actually, I'm trying my best.
Tapi sampai kapan?
Belakangan rasanya tak ada perubahan darimu.

Jadi,
Kamu... kapan dewasanya?



Yours,

RS

September 9, 2014

Selamat tanggal 9 lagi, Risma

Gue setuju sama pernyataan kalau hidup memang kadang di atas dan kadang di bawah. Ya, muter-muter aja kayak roda tergantung yang muterin rodanya lagi pengen kita di atas atau di bawah. Kadang sedih, kadang bahagia, kadang nangis, kadang juga tertawa sampe kayak orang gila.

Hari ini umur gue kembali berkurang; banyak doa terucap, ada juga hadiah, dan kasih sayang dari orang sekitar. Seneng? Pasti dong. Tapi gue jadi berpikir begini, dalam hidup ini, menurut gue paling tidak ada 2 keadaan yang pasti membuat kita merasa diliputi kasih sayang yang teramat sangat. Pertama, saat kita ulang tahun. Gue pribadi selalu senang kalau mendapat ucapan ulang tahun dari siapapun, baik itu keluarga, pacar, teman, bahkan orang yang tidak gue kenal sekalipun. Selain doa, hadiah, atau apapun itu yang mereka berikan, ada rasa lain yang gue rasakan. Rasa diingat dan dipedulikan. Rasanya ya senang aja gitu orang-orang ternyata masih inget dan memperdulikan hari lahir lo walaupun tiap tahun itu berulang, hehe.

Kedua, mungkin ketika kita mati. Untuk kasus yang ini beda ya karena kita gak bisa liat dalam keadaan fisik yang masih hidup seperti pas ulang tahun tadi. Tapi justru di momen itu, lo bisa melihat siapa aja yang memang sebenarnya tulus dan peduli pada lo gak cuma basa-basi. Di momen-momen itulah, kesetiaan orang di sekeliling lo selama ini bisa terlihat. Bener emang? Bener kok, gue udah liat contohnya beberapa kali.

Post ini gue buat bukan karena gue pengen mati atau apa ya haha, tapi lebih ke hasil pemikiran gue aja seharian ini. Ya, pada intinya sih hari ini gue bahagia terlepas dari apa yang sudah terjadi kemarin ataupun yang akan terjadi besok. Yang penting ya sebisa mungkin dinikmati aja dulu saat kita lagi bahagia, mumpung masih muda. Wk.

Anw, selamat tanggal 9 lagi!

August 17, 2014

Mungkin

Aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Yang aku tau dan ingin aku percaya hanya apa yang keluar dari mulutmu, apa yang kamu katakan. Aku tidak menulis ini sebagai pernyataan menyudutkan atau menyalahkan, melainkan hanya ingin sekedar berbagi rasa.

Siang ini aku menemukan secarik kertas bertuliskan kata-kata yang cukup panjang, berjejeran dengan ucapan selamat dariku 5 bulan yang lalu, terpajang rapi di sana, menggelitikku untuk membaca tuntas apa isinya. Sebuah pesan. Tertanda dari seorang teman lama (?). Tertulis sebagai pesan perpisahan, tapi tidak juga (?). Mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai ucapan selamat, dibumbui dengan beberapa harapan. Tulisan pesan tersebut cukup membuat aku terdiam dan berpikir beberapa saat. Mengapa pilihan kata itu yang ia gunakan? Mengapa pilihan benda itu yang ia berikan? Apa hubungan kalian memang sedekat itu, atau ini hanya perasaanku yang terlampau berlebihan? Tapi aku memilih untuk tidak membahasnya denganmu. Aku memilih diam karena memang itu yang kau inginkan, bukan?

Jujur, hari ini bukanlah hari yang mudah. Kau pun mengetahuinya. Setelah melalui hari yang panjang denganmu, aku tergelitik untuk berbagi cerita ini dengan seorang teman serumah, didukung rasa penasaran apakah pemikiran ini wajar atau tidak. Aku bahkan tidak memintanya untuk berpihak, murni hanya ingin melampiaskan rasa penasaran yang membayang.

Yah pada intinya, aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Jika diberi contoh kasus yang sama seperti ini pada hubunganku dengan seorang teman yang tentu kamu tau siapa, dengan peranku sebagai "ia" dan temanku itu sebagai "kamu", aku rasa seberapa pun aku merasa dekat dengannya, aku tidak akan sampai pada pemikiran untuk memberi hadiah seniat itu, pula tidak akan sampai pada pemikiran untuk menuliskan kata-kata serancu itu.

Tapi...
Mungkin tingkat keniatan setiap orang memang berbeda.
Mungkin hubungan kalian memang pernah lebih dari yang aku perkirakan semula.
Mungkin hal tersebut memang biasa dalam hubungan kalian.
Mungkin memang benar hadiah terakhir hingga dilakukan seniat mungkin.
Mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlampau berlebihan.
Hanya kamu, ia, dan Tuhan yang pada akhirnya tau jawabnya.

Aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini saat ini, tapi mungkin kamu akan menemukannya suatu saat nanti. Semoga saat membacanya, kamu diberikan kelapangan hati untuk tidak gegabah dalam berucap apalagi bertindak kemudian. Semoga saat itu tiba, hubungan ini masih baik-baik saja seperti sedia kala. Dan semoga saat itu tiba, kita sama-sama dapat menanggapinya dengan lebih dewasa.
Ya semoga saja.


Bandung, 16 Agustus 2014


(yang selalu mendukungmu)

August 10, 2014

Friends: My Point of View

This post is dedicated to you, a great friendship that already made me this way. Thanks for laugh we've shared, story we've told, fight we've belong, journey we've been through, and years that contains so many moments to remember someday.

Ajeng Putri Lenggogeni
Orang yang menurut gue punya talenta super banget kalo bisa dimanfaatkan dengan bijak, bahkan gak kalah cerdas dari orang-orang yang selama ini dia bilang pinter melebih dia. Teman yang extrovert, bisa melonjak kegirangan dan bisa marah-marah sepersekian detik kemudian. Teman pertama yang bisa bilang gue "brengsek" dengan sepenuh hati di depan kelas pas kuliah. Makasih loh jeng telah mengenalkan gue pada banyak hal. Terima kasih telah mengajarkan gue bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada sekedar textbook kampus, terima kasih telah secara tidak langsung mengajak gue keluar dari kecupuan gue, dan terima kasih telah mengingatkan diri gue sendiri untuk lebih serius memegang kepercayaan orang lain.

Andita Rahmi Faradina
Teman yang gue segani awalnya. Tapi itu perlahan hilang seiring berjalannnya waktu dengan segala sifat yang lo tunjukkan. Teman yang gue baru tau ternyata dibalik kecuekannya adalah orang yang sangat tidak enakkan ke orang lain. Orang yang bisa tertawa saat dikatain gendut. Teman yang enak banget buat dipeluk wokwok. Gue akan kangen cerita macem-macem sama lo dut, terutama tentang sifat yang "brengsek-brengsek" itu. Terima kasih ya lo telah mengajarkan gue bahwa egosentris itu sangatlah tidak baik, terima kasih buat semua pelipur lara selama ini, terima kasih atas semua pelukan pengobat kegundahan, terima kasih telah "menampar" gue atas kebiasaan tidak baik, dan terima kasih atas semua pelajaran hidup selama ini.

Annisa Hayuwidia
Tempat berbagi segala cerita tanpa terkecuali. Selalu bisa dipercaya dengan sepenuh hati walau belum tentu terandalkan haha. Hewan kesukaannya adalah uler entah kenapa :p. Gudangnya lelucon apapun yang tak akan pernah terpikirkan oleh gue. Gue akan selalu kangen duduk sama lo entah dimana itu kerjaannya cuma makan atau diem atau ngobrol segala sesuatu tanpa menyentuh smartphone sama sekali, Ju. Terima kasih telah mengajarkan gue untuk sejenak berhenti dari kesibukan gue dan melihat sekeliling, terima kasih mengajarkan gue bahwa kejujuran itu sangatlah penting walaupun sakit, terima kasih telah mengajak gue untuk terkadang menertawakan kehidupan, dan terima kasih telah menjadikan hidup ini lebih nikmat untuk dinikmati.

Diane Anggraeni
Gue kadang suka menganggap lo adik kecil gue walaupun kalo dari segi umur nggak sih, Di hehe. Bisa dibilang paling cengeng dari teman lain yang gue tau. Kalo yang ini introvert banget sampe-sampe suka nangis aja sendiri tanpa orang lain tau kenapa. Banyak yang gak dia suka dari mulai gelap sampe roti, tapi sesungguhnya gue kagum sama lo karena lo sangat serius sama apa yang lo lakukan di. Teman yang bikin gue berbusa nanyain sepupu gue soal kesehatan walaupun gue suka gak ngerti apa yang sesungguhnya diomongin. Si kecil yang suka membuat teman-teman sekitarnya merasa kehilangan akibat ditelan kesibukan setelah tingkat 2 kuliah. Gue akan kangen cerita sampe pagi di kamar lo mulai dari ngomongin orang sampe ngomongin diri sendiri, Di. Terima kasih telah mengajarkan gue bahwa introvert itu kadang bukan sesuatu yang sehat, terima kasih telah menyadarkan gue bahwa perbedaan itu nyata, terima kasih telah membuat diri gue ter-trigger untuk menjadi sebaik lo, terima kasih telah secara tidak langsung membuat gue lebih aware terhadap kesehatan, dan terima kasih telah memberi tahu gue kalo kalian selalu ada buat gue.

Dini Farida Noviyanti  
Marmut kecil yang hobinya menggelendot. Teman yang bisa-bisanya nginep di kosan orang mulu. Teman yang singgah di kosan gue selama liburan buat nonton Piala Eropa 2012 barengan. Tempatnya buku-buku sesuai selera gue dikoleksi. Suka banget makan tapi paling ogah kalo udah berhubungan sama -berry dan pisang-pisangan. Gue akan kangen bener-bener nonton bola bareng lo, Din. Terima kasih telah mengajarkan gue bahwa kejujuran itu yang perlu dijunjung, terima kasih telah secara tidak langsung mengajarkan gue bahwa perilaku sembrono itu gak akan baik buat kita, terima kasih telah mau berbagi dan mendengarkan selama ini, terima kasih telah menunjukkan pentingnya sikap terhadap suatu hal, dan terima kasih telah mengajarkan gue bahwa usaha itu benar penting.

Edo Belva Firmansyah
Teman gue yang sangat terandalkan sampe suka bikin kesel sendiri karena suka lupa bagi kerjaan. Teman yang selalu siap menemani untuk melakukan hal-hal yang baru walau kadang gak penting. Hobinya baca buku psikologi dan kalo makan pasti paling lama. Gue pasti akan kangen nonton pertunjukkan macem-macem sama lo do sampe suka digosipin sana-sini. Untung aja lo tough dan take it easy anaknya kalo digosipin haha gutgut. Semoga lo langgeng ya sama Ayuk dan jangan lupa undang gue pas nikahan kalian! Ohya, terima kasih ya udah menemani hari-hari gue saat gue muak sama rutinitas atau pertemanan lain, terima kasih udah mau gue repotin suruh ini suruh itu, terima kasih udah ngojekin gue kalo pulang malem dengan gratis wokwok, terima kasih telah mau sabar nanggepin kalo gue lagi bete, dan terima kasih atas semua pengertian dan kesabaran selama ini.

Riyanda Anggara Putra
Bisa dibilang salah satu teman makan dan ngobrol paling setia. Paling seneng bidang kaderisasi dan yang terkait dengan karakter manusia sih, i guess #sotoy haha. Salah satu teman dekat yang udah entah berapa kali kena lempar muka bete dan serangan-ngambek dari gue hehe *peace*. Gue akan kangen masa-masa makan dimanapun sambil ngobrolin ini itu mulai dari pengalaman hidup, isu terhangat tentang orang sekitar sampe orang beneran penting, atau hal-hal penting gak penting lainnya. Teman yang selalu berusaha membantu temannya yang membutuhkan pertolongan bagaimanapun keadaannya. Semoga makin sering pulang kampung ya cil besok-besok haha. Btw, terima kasih ya udah menunjukkan gue sosok sabar dan rendah hati, terima kasih udah bantuin gue di segala acara dan kesempatan, terima kasih udah berbagi gosip dan pengetahuan yang lagi in di masanya, dan terima kasih telah menunjukkan bagaimana caranya lo menjalani kehidupan yang kemudian terkadang jadi contoh buat gue, dan juga terima kasih telah menunjukkan bahwa gak ada yang lebih baik daripada memberi dan ikhlas atas apa yang telah kita berikan.


Terima kasih sekali lagi kepada kalian yang telah membuat gue bisa menceritakan potongan-potongan dalam diri dan kehidupan gue. Yang selama ini cuma tersimpan jauh di dalam hati dan pikiran gue sendiri.
Terima kasih telah membuat gue lebih mudah dan tenang dalam menghadapi kehidupan.
Terima kasih telah membantu gue melewati semua kesulitan.
Terima kasih telah mengajarkan dan membimbing gue dalam setiap kesempatan.
Terima kasih, semoga kalian mendapatkan hal yang lebih baik dari yang pernah sengaja atau tidak sengaja kalian berikan pada gue.
Terima kasih dan sampai berjumpa kembali, teman-teman.
Semoga kita sama-sama sukses menjalani apapun yang ada di depan kita masing-masing.



  Bandung, 21 September 2013
Salam hangat,

Risma S.



February 18, 2014


Indeed, you just need to say..

 anything.

February 9, 2014

I'm trying, but..

And to be honest, it hurts me that well.

Whatever i saw this evening.

Yep, it still. 

---

n.b.: Happy belated birthday, mom. I'm sorry that i didn't make it today.

December 31, 2013

Last Piece About This Whole Year


"This year was hard for me."

Satu lagi tahun terlewat tanpa terasa. Dua ribu tiga belas ternyata tidak berjalan semudah perjalanan Bandung-Jakarta. Banyak hal terjadi tahun ini, peristiwa bahagia ataupun sedih. Banyak yang datang, banyak pula yang pergi. Tapi ya memang beginilah hidup kan pada kenyataannya.

Tahun 2013 memberi banyak pelajaran dan banyak cerita untukku. Rasanya semakin banyak mendengar, semakin lesu telinga ini untuk melanjutkannya, tapi di sisi lain semakin kuat pula hati ini untuk kembali berdiri dan berbuat baik, menyatukan dan membangun kembali satu-satunya hal yang sangat aku syukuri semenjak kecil. Begitu ikhlas dan sederhana rasanya keinginan itu.

Cukup, sudah cukup rasanya helaan napas ini. Cukup sampai disini perkara-perkara ini. Berat tapi memang dua tahun terakhir seperti diterpa berbagai perkara bertubi-tubi yang membuat hati ini karut marut dan perasaan campur aduk. Kadang marah, kadang senang, kadang sedih, dan pernah pula bahagia.

Tahun ini lalu ditutup dengan satu lagi kehilangan, dalam dua bulan terakhir sulit rasanya bernapas dengan tenang, apalagi untuk berpikir tenang. Dua tahun terakhir memang memberiku pelajaran hidup yang begitu berarti, terlalu banyak rasanya dalam waktu sesingkat ini. Kalo kata seorang saudara, "Seperti ada awan gelap yang sedang melingkupi keluarga kita". Ya mungkin itu memang pengandaian yang tepat. Entahlah.

Aku hanya berharap tahun depan memberi arti lebih positif, kesehatan, dan kebahagiaan yang lebih lagi untuk keluarga besar ini. Begitupun tahun-tahun berikutnya. Cukup sudah kejadian-kejadian yang terjadi di tahun-tahun kebelakang. Cukup kami yang sudah merasakan, dan janganlah buat adik-adik kami kembali merasakannya esok hari.



-----


Rasa kehilangan memang bisa membuat kita belajar banyak, tapi dapat pula membuat kita tak lagi percaya. Tinggal jalan mana yang ingin kita pilih.


another p.s.:
Are we going to the same direction? Or maybe not?
We'll see later, but hope so.

December 7, 2013


Capek tapi sayang?
Ya kayak gini ini,
susah emang jelasinnya.

November 24, 2013

Lagi-lagi kabar ini.

November, 19th 2013
Tue: 6:45 PM
Hari ini kembali mendengar kabar serupa.
Entah memang bertaburan semenjak tidak ada lagi mami,
atau hanya aku yang mulai aware dengan hal ini.

Entah mengapa sakit rasanya mendengar kabar duka darimanapun asalnya.
Seperti sedikit banyak mengerti bagaimana rasa sakitnya ditinggalkan.

Rasa-rasanya begitu banyak dibenturkan dengan hal seperti ini,
kabar duka dan rasa kehilangan.
Apa artinya ini?
Apa ini cara-Mu mengingatkanku yang masih sering lalai ini?

Jika ya, terima kasih atas peringatan dan perhatiannya.
Tapi satu hal lagi yang sekarang aku mohon pada-Mu,
bolehkah Engkau "memperhalus" teguran-Mu?
Dan bisakah itu tidak dengan menyakiti orang-orang tersayangku?


6:56 PM
Mungkin ini memang takdir.

Kenapa gue hari ini memilih baju lengan panjang dibanding kaos biasa.

Kenapa gue tadi sebelum berangkat belajar malah memilih sepatu dibandingkan memakai sendal walaupun tempat yang dituju berjarak dekat dari kosan.

Kenapa gue memilih membawa charger lengkap walau tau belum tentu terpakai.

Kenapa hari ini super membosankan gaktau mau ngapain tapi males juga mikirin akademik.

Ya, mungkin karena ini.
Gue ditakdirkan memilih semua itu untuk akhirnya pulang ke Jakarta dengan sopan buat menjenguk om yang sejak belasan hari lalu terbaring di ICU dan belum sempat terjenguk karena "kesibukan" gue semata. Ya, karena "kesibukan" gue sendiri, gue kembali masuk dalam state "terlambat".

Dan ternyata memang selalu ada kata terlambat dalam setiap kesempatan.

October 13, 2013

Entah Apa Namanya

Gatau apa ini namanya
Yang jelas jadi dengerin album maliq semaleman
Yang jelas jadi suka sama lagu-lagu di sriwedari
Sekian
Bye. 

October 6, 2013

Things That Really Bother Me That Much

Belakangan, bisa dibilang gue kembali masuk ke dalam fase kegelisahan hidup gue sendiri. Entah mengapa rasanya kok sulit juga ya untuk membuat hidup ini berjalan stabil dan normal-normal aja. Makin kesini makin banyak yang dipikirkan dan sedikit banyak mengganggu gue sih. Bikin jadi gelisah, bikin diri sendiri jadi gak tenang.

---

First of all, gue lagi merasa "aneh" sama temen sendiri. Jelas rasanya ada yang belum selesai sedari dulu, yang sekarang muncul lagi ke permukaan tanpa ada kejelasan dimana letak duduk persoalannya. Orang yang gue kenal dari dulu paling extrovert dalam lingkar pertemanan, sekarang diam. Bukannya menghindar, malah cenderung bersikap seolah tidak kenal. Dan hal itu yang juga membuat gue bingung sebingung-bingungnya. Di satu sisi setuju banget untuk saling memberi pelajaran, tapi kayaknya bukan dengan saling diam dan "pura-pura tidak kenal" gini deh. Kapan selesainya dong kalo gak ada yang ngomong kan. Dan jujur gue gak tahan. Gue gak tahan berada dalam posisi seperti ini. Walau dengan berat hati, gue mungkin akan lebih setuju bahwa berantem bacot-bacotan lebih baik daripada saling berdiam diri yang gak jelas ujungnya dimana.

Diminta untuk membuka pembicaraan, tapi bingung apa yang harus gue omongin. Udah abis gue curhatin ke orang yang tau duduk persoalannya. Kalo mau jujur, udah gak napsu mau marah-marah. Di samping juga emang gue bukan tipe orang yang bisa "menunjukkan emosi" secara eksplisit. Bisa-bisa kalo gue yang memulai pembicaraan, isinya minta maaf doang. Saking udah gak minat ngomonginnya. Udah gak peduli deh harga diri, sama temen sendiri ini. Toh mengalah bukan berarti kalah kan? Tapi emang ada benernya sih mending diomongin biar bisa saling mengeluarkan unek-unek, dengan harapan ke depannya bisa saling memperbaiki diri. Gak cuma orang lain, diri sendiri juga. Gue juga.
            
Yah gue tau gue pasti ada salahnya kalo gak ya gak mungkin kejadian ini terjadi. Buat pihak-pihak yang tersakiti, maaf ya. Sedalam-dalamnya. Gue akan coba memperbaiki diri ini. Yang suka sok hebat ini. Ingetin aja kalo gue kembali "berbuat salah". Tapi fyi, tolong perbaiki diri kalian masing-masing juga ya. Yah, itung-itung buat kebaikan kita sama-sama ke depannya. Dan semoga gue gak hanya bisa mengungkapkan ini dalam dunia maya aja. Semoga ada harinya masalah ini akan terselesaikan. As soon as possible.

---

Lalu, hal lainnya adalah wacana perpisahan. Bro bro gilak kali lo ya gue aja udah stres didiemin temen gue beberapa waktu, ini pula nambah-nambah wacana perpisahan segala. AAAAAAAA!!! Ada gak sih bukit terpencil di Bandung yang bisa dijangkau dan bisa diteriakin seenak jidat kayak di film-film? Sekali lagi, AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!
           
Yak mungkin kalian berpikir gue lebay. Tapi lo gak tau kan gimana rasanya jadi gue. Gak tau kan isi kepala ini muter-muter "memaksa" gue memikirkan hal-hal yang seharusnya bisa tidak gue pikirkan. Kalo dari plus minus yang udah dibeberkan selama ini, ya mungkin banyakan plusnya, walaupun perlu ditekankan disini sekali lagi bahwa keuntungan-keuntungan itu gak bisa didapat secara instan, melainkan harus dengan usaha dan kerja keras masing-masing dari kita nantinya. Jadi, yang sekarang pro banget, saran gue besok-besok beneran dilakuin ya kalo udah fix akan terbentuk. Jangan omdo, jangan bikin orang lain kecewa.
     
Kalo dari sisi ego pribadi, jelas gue akan menjawab tidak setuju dengan wacana tersebut. Cuma ya emang argumen yang sama sekali tidak kuat, karena lebih cenderung berlandasakan perasaan, bisa dibilang tidak realistis malah, terlalu lemah.
      
Hasil ngobrol dengan seorang teman yang mungkin merasakan hal yang sama, sama sedihnya, sama merasa kehilangannya, ada quote yang menurut gue cukup bagus untuk penggambarannya.
"Gimana ya. Rasanya mungkin kayak dalam fase patah hati gitu kali ya, ibarat lo pacaran dua tahun trus tiba-tiba disuruh putus. Jadinya ya lesu gitu deh."
Hem mayan jijik sih sama kata-katanya, tapi bisa dibilang ada benernya sik. Mungkin bisa sedikit menggambarkan rasanya buat orang lain. Dan terakhir...

Udah siap ma, apa yang lo lakukan selama ini bisa dibilang gak berarti lagi?

Udah siap ma, kalo lagi nganggur nunggu kuliah gak ada HME lagi?
      
Udah siap ma, gak bisa sholat di HME lagi?
      
Udah siap ma, wisuda gak ada yang ngarak?
   
Atau mungkin lebih tepatnya..
Udah siap ma, mendapati perasaan awkward setelah diumumkan kalo akan berpisah?
   
Udah siap ma, gak bisa merasa "sebebas" itu lagi mondar-mandir ke HME?
    
Udah siap ma, "kehilangan" teman ngobrol dan kebodohan-kebodohan yang selama ini lo liat dan rasakan?
   
Udah siap ma, gak bisa supporteran seramai dulu lagi?
   
Udah siap ma, lebih mengerucutkan pertemanan?
   
Jawabannya nggak. Nggak untuk semua pertanyaan. Gue gak siap merasakan "kehilangan" yang begitu banyak. Gue mau tetap berada dalam kondisi itu, kondisi yang gue nikmati suka dukanya seperti hari-hari biasanya. Gue mungkin begitu egois mau tetap berada dalam comfort zone itu, tapi sejauh ini jauh dalam diri gue tetap belum bisa berdamai dengan perasaan "kehilangan" yang begitu banyak dan begitu besar ini.

Walaupun mungkin ke depannya gak akan sesignifikan itu perubahan yang terlihat dari luar, tapi tetap dari dalam diri ini rasanya akan banyak perubahan. Perubahan cara pandang, perubahan feel, perubahan kenyamanan, perubahan ini itu yang hanya bisa dirasakan pihak-pihak yang memang merasa kehilangan.

Yah pada akhirnya, gue sebagai manusia biasa hanya bisa berharap yang terbaik yang akan terjadi. Dan yakinlah Allah selalu mendengar doa hamba-Nya yang sedang berada dalam kesulitan.
Semoga ini memang yang terbaik.
Amin.

Bandung, October 6th 2013,


Risma S.
18110035
Electrical Telecommunication Engineering
Vice Minister of External HME ITB

Out Of Goodbyes

Maroon 5 Ft. Lady Antebellum
Out Of Goodbyes
Nice song (Y)


September 23, 2013

Halo, Selamat Bergabung!

Malam ini gue kembali pulang larut. Bedanya, agenda hari ini terjadinya cuma setahun sekali dan mungkin aja ini yang terakhir gue datangi saat masih berstatus mahasiswa. Amin. 

Yap, malam ini gue dan massa HME telah menerima 221 adik-adik baru kami secara resmi. Hamdallah setidaknya malam-malam lelah "nyuapin" kalian telah berakhir. Semoga ke depannya kalian makin pintar, makin baik, nggak ngilang, dan tetap commit dengan semua janji yang telah kalian ucapkan ataupun yang masih ada di hati kalian. Semoga juga kalian bisa lebih baik daripada angkatan saya dan bisa membawa nama baik HME ke seluruh sendi kehidupan yang akan kalian hadapi nantinya.

p.s.: Akhirnya gue memutuskan buat menitipkan jahim gue ke seorang bonita elektro yang pernah ngobrol dengan gue tempo hari. Air mukanya seneng banget pas dapet jahim (apa perasaan gue doang ya, gelap sih soalnya haha). Dan walaupun terhitung baru kenal udah bisa ngeledekin gue aja doi wkwk gutgut. Btw ada pengalaman seru juga yang gue dapatkan malam ini. Niat hati ingin kenalan sama bonita-bonita biar hilang awkward, eh yang gue dapatkan malah satu tubrukan dari seorang bonita karena dia mau meluk temennya saking senengnya dapet jahim, dikacangin sama bonita yang gue kasih jahim gara-gara temennya mau berbagi excitement dapet jahim, dan beberapa kali keinjek kaki gara-gara pada mau nyamperin temennya buat pelukan menyalurkan kebahagiaan karena dapet jahim pula. Jadi intinya, hati-hatilah dengan jahim karena bisa membuat Anda (mungkin) terluka.

Ya, ternyata tidak "seseram" itu untuk menerima kalian sebagai adik-adik gue secara resmi. Mungkin kemarin gue salah. Gue cuma bisa berharap kebahagiaan dan semangat kalian pada malam ini bertahan untuk selamanya, bahkan sampai kalian sudah tidak berada di kampus ini. Semoga janji-janji yang pernah terucap dari mulut kalian ataupun yang belum terucap tetap kalian laksanakan. Pokoknya, jangan sampe ilang-ilangan ke depannya. 
Sekali lagi, selamat bergabung!
Jaga terus dan tularkan semangat kalian ke teman-teman yang lain ya.

Ciao, 


Risma S.

September 18, 2013

Keteteran

Hai! Gue cuma lagi agak gelisah dan ingin menumpahkan sedikit keluh kesah disini.

Entah kenapa belakangan gue merasa agak keteteran. Parameternya bisa terlihat dari tugas dan to do list gue yang menumpuk sampe super banyak sekarang ini padahal sks dan kesibukan gue gak terlalu beda jauh dari teman-teman gue yang lain.

Jumlah sks yang gue ambil semester ini emang termasuk itungan banyak, cuma ya cuma beda 2 sks, harusnya gak terlalu signifikan sih perbedaannya.

Kesibukan himpunan juga emang lagi ada kerjaan sih, cuma bukan gue yang meng-handle langsung walaupun tetep ikut mikir, mengawasi, ikutan rapat juga, dan memberi saran sih. Tapi ya so far baru sebatas itu, harusnya menurut logika ya gak sibuk-sibuk amat.

Deadline kejar-kejaran rasanya membuat nafas tak teratur, baik tugas macem-macem apalagi deadline proposal TA yang didalamnya ada judul, latar belakang, indikator keberhasilan, dkk dkknya.

Rencana-rencana kehidupan yang awalnya mau gue kejar di semester ini pun rasanya mulai samar terlihat di depan karena siklus aktivitas yang mengharuskan berada di kampus dari pagi hingga larut yang tentunya sedikit banyak menyita waktu, tenaga, bahkan pikiran.

Yak, akhir kata harapan gue saat ini cuma satu. Semoga di akhir minggu ini banyak to do list gue yang sudah bisa terlaksana sehingga gue bisa mulai kembali mengatur nafas untuk menghadapi minggu depan yang tentu tidak kalah padatnya. Hamhem.
Amin.

September 8, 2013

What A Coincidence.

Gak sengaja memutuskan makan di suatu tempat yang kurang biasa dengan beberapa teman. Duduk menunggu beberapa saat membuat gue tersadar bahwa tempat tersebut adalah tempat yang sama dengan yang pernah gue datangi sekitar hampir dua tahun lalu.

Yap, bangunan yang masih sama, siang yang sama, tempat duduk yang ternyata persis sama, tokoh yang berbeda, dan pilihan yang juga bisa dibilang berbeda paling tidak untuk saat ini.