Dan pagi ini gue kembali bersujud kepadaNya. Mungkin untuk memohon ampun, mengucap syukur, atau sekedar menenangkan diri.
February 14, 2012
February 11, 2012
When The Sun Goes Down
Selalu suka suasana sore hari. Waktu kecil, sore gue berarti saatnya bermain sama teman sekomplek, terlepas dari semua kegiatan hari itu dan tugas-tugas yang menunggu ditengok pada malamnya. Beranjak besar sedikit, sore gue pun mulai berganti jadi jam "bermain" di bimbingan belajar. Tapi entah kenapa gue sangat menikmatinya, mungkin karena suasana, pengajar, cara menyampaikan materi, atau teman yang selalu mendampingi saat serius maupun bercanda. Apalagi semenjak di Bandung gue makin menikmati dan menyukai sore di setiap harinya. Semburat langit yang kadang berubah warna jadi orange, semilir angin yang membuat hidup terasa lebih menyenangkan, dan segala aktivitas yang biasa dilakukan di sore hari.
Hari ini hamdallah gue kembali menikmati jam-pulang-masih-ada-matahari. Hahaha. Semester kemaren rasanya jarang banget dapet kesempatan begini, pulang kuliah saat masih ada matahari senja. Seperti biasanya, gue pulang sendiri naik ancot. Selalu merasa lebih lega dalam kondisi begini. Rasanya tuh kayak lagi dipertontonkan film kehidupan episode kesekian. Betapa banyak harapan di wajah penjual makanan agar makanannya laris hari ini, betapa ikhlas senyum seorang Ibu yang salah jalan atau tertinggal ancot, betapa canda tawa sesama buruh angkut barang dapat sejenak meredakan kegelisahan permasalahan mereka, dan betapa beberapa lembar uang ribuan seharga pajak resto terkenal dapat menghidupi sebuah keluarga kecil. Yah intinya, semua yang gue miliki terasa lebih berharga dibandingkan biasanya. Entah itu pahit atau manisnya kehidupan selama ini, gue harusnya tetap bersyukur atas semua itu.
Hari ini hamdallah gue kembali menikmati jam-pulang-masih-ada-matahari. Hahaha. Semester kemaren rasanya jarang banget dapet kesempatan begini, pulang kuliah saat masih ada matahari senja. Seperti biasanya, gue pulang sendiri naik ancot. Selalu merasa lebih lega dalam kondisi begini. Rasanya tuh kayak lagi dipertontonkan film kehidupan episode kesekian. Betapa banyak harapan di wajah penjual makanan agar makanannya laris hari ini, betapa ikhlas senyum seorang Ibu yang salah jalan atau tertinggal ancot, betapa canda tawa sesama buruh angkut barang dapat sejenak meredakan kegelisahan permasalahan mereka, dan betapa beberapa lembar uang ribuan seharga pajak resto terkenal dapat menghidupi sebuah keluarga kecil. Yah intinya, semua yang gue miliki terasa lebih berharga dibandingkan biasanya. Entah itu pahit atau manisnya kehidupan selama ini, gue harusnya tetap bersyukur atas semua itu.
When the sun goes down. Saat yang tepat menurut gue untuk merenung dan kembali bersyukur atas apa yang telah kita lalui selama ini. Harusnya gak ada lagi kata 'hidup gue udah yang paling hancur dari semua orang', yang ada tuh berarti kita lagi diuji buat naik ke tingkat berikutnya. Semua pasti ada hikmahnya. Percaya deh, bahwa setiap sakit pasti ada obatnya. Have a nice day ppl!
n.b.: Makin hari hubungan ini makin baik. Semoga tetap baik kedepannya. Dan semoga gue bisa menyeimbangkan akademik, sosial, tanggung jawab, kesehatan, dan kepercayaan. Amin.
------------
n.b.: Makin hari hubungan ini makin baik. Semoga tetap baik kedepannya. Dan semoga gue bisa menyeimbangkan akademik, sosial, tanggung jawab, kesehatan, dan kepercayaan. Amin.
February 8, 2012
First Birthday
Hari ini, 00:08 jam windows, happy birthday mom! Semoga sehat dan baik-baik aja disana. Minta doa buat aku dan yang lain terus ya mi. Maaf karena aku belum bisa ngasih semua yang terbaik untuk mami. Tapi makasih mami udah ngasih semua yang terbaik untuk aku, walau mungkin aku baru tau di akhir. Ini ulang tahun pertama mami yang aku lewatkan tanpa bisa sms atau telpon mami secara langsung buat ngucapin. Dan entah udah berapa kali hari ulang tahun dan hari Ibu yang aku lewatkan tanpa ucapan karena berpikir "masih ada tahun depan". Maaf dan terima kasih yang tak lagi mampu aku ucapkan jumlahnya. Cuma doa mungkin yang bisa aku hadiahkan saat ini. Aku dan kami, kangen mami. Sangat.
--------
n.b.: Dan sampai sekarang pun gak ada satupun cerita atau post yang aku lewatkan tanpa air ini di pipi mi. Maaf ya mi, aku tau udah gak boleh cengeng padahal sekarang. Haha :p . Dan semoga gak ada hal yang lebih buruk lagi dari ini semua, Amin.
February 6, 2012
Mind Blowing
Satu post lagi sebelum memulai kuliah hari ini mungkin shabby kali ya
Akhir-akhir ini berbagai kejadian bikin gue linglung menghadapi hidup. Dulu, gue pikir kejadian cem gini cuma adanya di TV, atau paling nggak gue rasa gak akan pernah gue alami. Makin kesini makin sadar aja emang hidup tuh kadang di atas, kadang di bawah. Dulu lo bisa hahahihi, sekarang bisa jadi huahuha.
Dulu rasanya hidup gue aman tentram aja, walau sebenarnya don't just a book by its cover tuh berlaku dalam berbagai hal. Toh senyum bukan berarti bahagia, atau nangis belum berarti sedih kan? Kalo diibaratkan nilai, hidup gue belakangan ini tuh, 70-85-90-65-60-30. Makin hari makin linglung. Balik ke Bandung udah cem pelarian gini. Sendiri dan dengerin musik udah jadi hobi lagi. Kuliah sama organisasi ibarat formalitas kehadiran aja. Tawa dan senyum orang lain udah gak begitu menular di hidup gue saat ini.
Mulai kuliah, malesnya gak ketulungan. Jarang-jarang malesnya semales ini seumur-umur. Cari kesenangan dan cari kesibukan mungkin salah satu jalannya, tapi toh ya gak menyelesaikan masalah. Rasanya makin jauh sama semua orang. Sampai kemarin, gue masih merasa hidup gue makin mengalami degradasi (widiihh sabi kan bahasa gue :p). Rasanya tuh, mungkin gak ada lagi hidup yang lebih buruk dari yang gue sedang alami sekarang.
Dua hari kemarin, banyak tokoh penginspirasi hidup yang gue dengarkan kisahnya. Yaa paling nggak, dapetlah ya ketawa dikit haha. Kemarin, gak ada yang begitu istimewa, selain semburat langit Bandung yang berwarna orange dan senyumnya yang terlihat sangat bahagia waktu itu, yang jujur membuat gue bertanya-tanya dan kangen akan memori yang pernah tercipta. Dan pagi ini, gue menemukan sebuah semangat yang masih ada dalam diri gue, jauh di dalam sana, yang walaupun gue harus berusaha menggali untuk menemukannya, tapi paling nggak kan masih ada. Hehe.
Pagi ini juga gue berusaha berkali-kali menanamkan di diri gue bahwa banyak hidup orang lain yang lebih tidak beruntung dan bahkan jauh lebih sulit dari hidup gue saat ini. Bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada seorang umatNya melebihi kemampuannya. Bahwa setiap sakit selalu ada obatnya. Dan bahwa yang perlu gue lakukan saat ini hanya berusaha, bersabar, dan bersyukur.
Salam.
Akhir-akhir ini berbagai kejadian bikin gue linglung menghadapi hidup. Dulu, gue pikir kejadian cem gini cuma adanya di TV, atau paling nggak gue rasa gak akan pernah gue alami. Makin kesini makin sadar aja emang hidup tuh kadang di atas, kadang di bawah. Dulu lo bisa hahahihi, sekarang bisa jadi huahuha.
Dulu rasanya hidup gue aman tentram aja, walau sebenarnya don't just a book by its cover tuh berlaku dalam berbagai hal. Toh senyum bukan berarti bahagia, atau nangis belum berarti sedih kan? Kalo diibaratkan nilai, hidup gue belakangan ini tuh, 70-85-90-65-60-30. Makin hari makin linglung. Balik ke Bandung udah cem pelarian gini. Sendiri dan dengerin musik udah jadi hobi lagi. Kuliah sama organisasi ibarat formalitas kehadiran aja. Tawa dan senyum orang lain udah gak begitu menular di hidup gue saat ini.
Mulai kuliah, malesnya gak ketulungan. Jarang-jarang malesnya semales ini seumur-umur. Cari kesenangan dan cari kesibukan mungkin salah satu jalannya, tapi toh ya gak menyelesaikan masalah. Rasanya makin jauh sama semua orang. Sampai kemarin, gue masih merasa hidup gue makin mengalami degradasi (widiihh sabi kan bahasa gue :p). Rasanya tuh, mungkin gak ada lagi hidup yang lebih buruk dari yang gue sedang alami sekarang.
Dua hari kemarin, banyak tokoh penginspirasi hidup yang gue dengarkan kisahnya. Yaa paling nggak, dapetlah ya ketawa dikit haha. Kemarin, gak ada yang begitu istimewa, selain semburat langit Bandung yang berwarna orange dan senyumnya yang terlihat sangat bahagia waktu itu, yang jujur membuat gue bertanya-tanya dan kangen akan memori yang pernah tercipta. Dan pagi ini, gue menemukan sebuah semangat yang masih ada dalam diri gue, jauh di dalam sana, yang walaupun gue harus berusaha menggali untuk menemukannya, tapi paling nggak kan masih ada. Hehe.
Pagi ini juga gue berusaha berkali-kali menanamkan di diri gue bahwa banyak hidup orang lain yang lebih tidak beruntung dan bahkan jauh lebih sulit dari hidup gue saat ini. Bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada seorang umatNya melebihi kemampuannya. Bahwa setiap sakit selalu ada obatnya. Dan bahwa yang perlu gue lakukan saat ini hanya berusaha, bersabar, dan bersyukur.
Salam.
---------
n.b.: Paling nggak saat ini teman-teman di sekitar gue lagi pada bahagia setelah kesedihan yang silih berganti berlalu-lalang dalam kehidupan kami masing-masing. Mungkin gue emang belum bisa merasakannya saat ini, tapi setidaknya gue turut bahagia buat kalian yang lagi cimpiliminyi. Haha. Glad to know you all.
Oya satu lagi, rasanya saat ini Tuhan lagi kangen "pacaran" sama gue jadinya Dia menyentil gue agar gue bisa kembali mengadu padaNya.
Oya satu lagi, rasanya saat ini Tuhan lagi kangen "pacaran" sama gue jadinya Dia menyentil gue agar gue bisa kembali mengadu padaNya.
Pagi Pertama
Pagi ini rasanya masih sama seperti tadi malam. Gak ada perasaan tentang berbagai hal yang berubah. Aneh, gak seperti biasanya. Harusnya tidur bisa membuat diri gue jauh lebih positif dari sebelumnya.
Bangun tidur, masih juga linglung. Gue coba cari kesibukan di dunia maya. Seperti biasa, gue bukan orang yang pinter dalam hal browsing sesuatu kalo emang gaada pancingan. Alhasil cuma social network dan beberapa link yang gue ubek-ubek. Gak sengaja buka dan baca tulisan seorang teman yang muncul di timeline. Hal pertama yang ada dipikiran gue, menarik. Tulisannya gak berat tapi dalam. Yang gue lakukan cuma next, next, dan next tapi terhenti berhubung gue masih punya tanggung jawab untuk kuliah hari ini. Yah paling nggak hari ini gue dapet sesuatu, semangat baru, di tengah kemelutan dan karut marut hidup.
Bangun tidur, masih juga linglung. Gue coba cari kesibukan di dunia maya. Seperti biasa, gue bukan orang yang pinter dalam hal browsing sesuatu kalo emang gaada pancingan. Alhasil cuma social network dan beberapa link yang gue ubek-ubek. Gak sengaja buka dan baca tulisan seorang teman yang muncul di timeline. Hal pertama yang ada dipikiran gue, menarik. Tulisannya gak berat tapi dalam. Yang gue lakukan cuma next, next, dan next tapi terhenti berhubung gue masih punya tanggung jawab untuk kuliah hari ini. Yah paling nggak hari ini gue dapet sesuatu, semangat baru, di tengah kemelutan dan karut marut hidup.
----------
n.b.: Semalem ikutan closing ITB Fair 2012. Pendapat gue pribadi sih ya cukup kecewa sama closingnya yang geje begitu. Semoga ITB Fair berikutnya bisa jauh lebih baik lagi. Btw, risolesnya enak bangeett ngets :p
Subscribe to:
Posts (Atom)