December 24, 2018

Wasted.

It's such a waste
If neither of us are not happy

I am not happy
So, you should be happy then.

January 1, 2017

NYE 2017

Tbh, I still feel uneasy these days.
About how things going through nowadays.

------
Well, happy new year 2017, folks!
Hope this year is much better than the last one.
Cheers!

May 24, 2015

Sabar (?)

Kata orang, aku harus sabar.
Well actually, I'm trying my best.
Tapi sampai kapan?
Belakangan rasanya tak ada perubahan darimu.

Jadi,
Kamu... kapan dewasanya?



Yours,

RS

September 9, 2014

Selamat tanggal 9 lagi, Risma

Gue setuju sama pernyataan kalau hidup memang kadang di atas dan kadang di bawah. Ya, muter-muter aja kayak roda tergantung yang muterin rodanya lagi pengen kita di atas atau di bawah. Kadang sedih, kadang bahagia, kadang nangis, kadang juga tertawa sampe kayak orang gila.

Hari ini umur gue kembali berkurang; banyak doa terucap, ada juga hadiah, dan kasih sayang dari orang sekitar. Seneng? Pasti dong. Tapi gue jadi berpikir begini, dalam hidup ini, menurut gue paling tidak ada 2 keadaan yang pasti membuat kita merasa diliputi kasih sayang yang teramat sangat. Pertama, saat kita ulang tahun. Gue pribadi selalu senang kalau mendapat ucapan ulang tahun dari siapapun, baik itu keluarga, pacar, teman, bahkan orang yang tidak gue kenal sekalipun. Selain doa, hadiah, atau apapun itu yang mereka berikan, ada rasa lain yang gue rasakan. Rasa diingat dan dipedulikan. Rasanya ya senang aja gitu orang-orang ternyata masih inget dan memperdulikan hari lahir lo walaupun tiap tahun itu berulang, hehe.

Kedua, mungkin ketika kita mati. Untuk kasus yang ini beda ya karena kita gak bisa liat dalam keadaan fisik yang masih hidup seperti pas ulang tahun tadi. Tapi justru di momen itu, lo bisa melihat siapa aja yang memang sebenarnya tulus dan peduli pada lo gak cuma basa-basi. Di momen-momen itulah, kesetiaan orang di sekeliling lo selama ini bisa terlihat. Bener emang? Bener kok, gue udah liat contohnya beberapa kali.

Post ini gue buat bukan karena gue pengen mati atau apa ya haha, tapi lebih ke hasil pemikiran gue aja seharian ini. Ya, pada intinya sih hari ini gue bahagia terlepas dari apa yang sudah terjadi kemarin ataupun yang akan terjadi besok. Yang penting ya sebisa mungkin dinikmati aja dulu saat kita lagi bahagia, mumpung masih muda. Wk.

Anw, selamat tanggal 9 lagi!

August 17, 2014

Mungkin

Aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Yang aku tau dan ingin aku percaya hanya apa yang keluar dari mulutmu, apa yang kamu katakan. Aku tidak menulis ini sebagai pernyataan menyudutkan atau menyalahkan, melainkan hanya ingin sekedar berbagi rasa.

Siang ini aku menemukan secarik kertas bertuliskan kata-kata yang cukup panjang, berjejeran dengan ucapan selamat dariku 5 bulan yang lalu, terpajang rapi di sana, menggelitikku untuk membaca tuntas apa isinya. Sebuah pesan. Tertanda dari seorang teman lama (?). Tertulis sebagai pesan perpisahan, tapi tidak juga (?). Mungkin lebih tepat jika dikatakan sebagai ucapan selamat, dibumbui dengan beberapa harapan. Tulisan pesan tersebut cukup membuat aku terdiam dan berpikir beberapa saat. Mengapa pilihan kata itu yang ia gunakan? Mengapa pilihan benda itu yang ia berikan? Apa hubungan kalian memang sedekat itu, atau ini hanya perasaanku yang terlampau berlebihan? Tapi aku memilih untuk tidak membahasnya denganmu. Aku memilih diam karena memang itu yang kau inginkan, bukan?

Jujur, hari ini bukanlah hari yang mudah. Kau pun mengetahuinya. Setelah melalui hari yang panjang denganmu, aku tergelitik untuk berbagi cerita ini dengan seorang teman serumah, didukung rasa penasaran apakah pemikiran ini wajar atau tidak. Aku bahkan tidak memintanya untuk berpihak, murni hanya ingin melampiaskan rasa penasaran yang membayang.

Yah pada intinya, aku mungkin memang tidak tau seberapa dekat hubungan kalian dulu ataupun sekarang. Jika diberi contoh kasus yang sama seperti ini pada hubunganku dengan seorang teman yang tentu kamu tau siapa, dengan peranku sebagai "ia" dan temanku itu sebagai "kamu", aku rasa seberapa pun aku merasa dekat dengannya, aku tidak akan sampai pada pemikiran untuk memberi hadiah seniat itu, pula tidak akan sampai pada pemikiran untuk menuliskan kata-kata serancu itu.

Tapi...
Mungkin tingkat keniatan setiap orang memang berbeda.
Mungkin hubungan kalian memang pernah lebih dari yang aku perkirakan semula.
Mungkin hal tersebut memang biasa dalam hubungan kalian.
Mungkin memang benar hadiah terakhir hingga dilakukan seniat mungkin.
Mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlampau berlebihan.
Hanya kamu, ia, dan Tuhan yang pada akhirnya tau jawabnya.

Aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini saat ini, tapi mungkin kamu akan menemukannya suatu saat nanti. Semoga saat membacanya, kamu diberikan kelapangan hati untuk tidak gegabah dalam berucap apalagi bertindak kemudian. Semoga saat itu tiba, hubungan ini masih baik-baik saja seperti sedia kala. Dan semoga saat itu tiba, kita sama-sama dapat menanggapinya dengan lebih dewasa.
Ya semoga saja.


Bandung, 16 Agustus 2014


(yang selalu mendukungmu)