Bandung, January, 15th 2013.
Baru kali ini kayanya gue ngepost tentang supporteran. Anyway, ini adalah kali kedua gue supporteran tenis seumur hidup. Pertama, kemarin pas semifinal tunggal putra. Kedua, ya ini, siang ini. Dua kali nonton tenis dan tiap malem ngerekap skor cukup buat gue mulai megenal dan sedikit-sedikit paham tentang sistem penilaian yang dipakai dalam cabang olahraga ini. Thanks to Olimpiade dulu mungkin ya haha.
Back to topic, menurut gue dan teman gue, tenis merupakan olahraga yang elegan. Untuk itu, supporternya pun mau gamau ikutan elegan. Saat bola sedang dimainkan di lapangan, supporter harus diam tanpa suara. Gak boleh berisiklah intinya karena bisa mengganggu konsentrasi pemain mungkin ya. Kita baru boleh berisik dan menyemangati saat pemain mendapat poin dan bersiap untuk servis berikutnya. Begitulah garis besarnya.
Sedikit banyak gue yakin, hal ini tidaklah sulit untuk dilakukan oleh himpunan lain. Namun, untuk himpunan gue yang dikenal punya banyak lagu supporteran dan biasanya berisik, hal ini lumayan menyulitkan. Intinya sih gemes, karena kita biasa supporteran, bukan sekedar menonton. Supporteran paling rame, paling gilak, dan paling seru menurut gue mungkin udah biasa. Tapi kali ini beda guise, supporteran dalam diam. Gue yakin masing-masing individu yang duduk ataupun berdiri di saraga siang ini, yang notabene-nya punya jahim abu-abu yang entah dipakai atau ada di kosan sekalipun, yang kali ini bernyanyi dalam hati atau cukup mendoakan, semua mendukung satu nama, HME ITB.
Dan semua ini menghasilkan. Congrats guise, dua emas berhasil didapatkan lagi siang ini, lewat tenis tunggal putra dan tenis ganda putra. Semoga ke depannya masing banyak emas yang bisa kita raih dengan sikap tetap sportif diiringi mental juara, amin.
Mental juara, gak boleh jumawa.
------------------
p.s.: fotonya menyusul ya, tunggu aplotan dulu hehe.
No comments:
Post a Comment